Bukan sekadar mencegat orang yang masuk permukiman. Kampung Tangguh Sidotopo juga memiliki struktur tim lengkap. Mereka berbagi tugas. Harapannya, upaya warga menjaga kampung bisa maksimal.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
Tim di Kampung Tangguh Sidotopo Gang II, RW IV, dibentuk. Sangat sistematis. Tugasnya macam-macam. Mulai petugas penanganan warga sakit, petugas pemakaman, tim pangan, tim unit reaksi cepat (URC), tim data, kemananan, hingga humas.
Setiap tim mempunyai tugas masing-masing. Tim pangan misalnya. Tim tersebut bertugas menyediakan lumbung pangan atau sembako untuk distribusikan kepada seluruh warga yang membutuhkan. Dari total 750 kepala keluarga (KK), 119 di antaranya merupakan warga berpenghasilan rendah dan memerlukan bantuan karena sedang menjalani karantina.
”Kami berikan sembako dan makanan matang. Dengan begitu, mereka tetap nyaman di rumah dan fokus menjaga kondisi kesehatan masing-masing,” ujar Ketua RW IV Kelurahan Sidotopo Biasworo Adisuyanto.
Ada juga tim URC. Mereka berperan sebagai garda terdepan jika ada warga yang sakit.
Sebelum dievakuasi ke puskesmas atau rumah sakit, beberapa pengecekan dilakukan. Petugas wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap. Misalnya, baju hazmat, sepatu bot, sarung tangan, masker, penutup wajah, dan kacamata.
Lain pula tugas tim data. Mereka blusukan ke rumah-rumah warga. Menanyakan kepada warga apakah terdampak pandemi ataukah tidak? Mulai kondisi kesehatan hingga perekonomiannya.
Yang tak kalah penting adalah tim keamanan. Mereka bertugas untuk mengawasi aktivitas keluar-masuk warga ke RW 4. Baik itu warga asli maupun orang asing.
Sebelum masuk, seluruh warga harus menjalani pengecekan suhu tubuh. Jika di atas 37 derajat Celsius, mereka dilarang masuk ke kampung. Peraturan itu berlaku untuk semuanya. Mulai warga sipil, pejabat pemerintahan, hingga aparat kepolisian dan TNI. ”Khusus warga asli, jika ada yang demam, kami langsung serahkan ke tim URC untuk ditindaklanjuti,” ucap Adi.
Dia melanjutkan, setiap hari tim humas berkeliling di gang tersebut. Mereka mengingatkan setiap orang yang tinggal di sana untuk mematuhi protokol kesehatan. Mulai physical distancing hingga mengenakan masker jika beraktivitas di luar rumah.
Tim tersebut juga mengimbau warga untuk selalu menerapkan prinsip hidup bersih dan patuh aturan PSBB. Jika ada warga yang tidak mempunyai kepentingan lalu beraktivitas di luar rumah pada jam malam, ada petugas yang mengingatkan dengan menggunakan pengeras suara. Petugas tersebut menyuruh yang bersangkutan untuk masuk ke rumah.
”Selain itu, ruang isolasi kami dirikan. Tempat itu diperuntukkan bagi pemudik yang datang. Sebelum masuk ke rumah dan bertemu dengan keluarga, mereka (pemudik) harus menjalani isolasi mandiri dan rapid test. Jika sudah dipastikan aman, mereka baru diperbolehkan berinteraksi dengan keluarganya,” ujarnya.
Meski seluruh tim telah bekerja, Adi mengakui belum bisa memberikan performa terbaik. Keterbatasan waktu serta kesibukan rutinitas menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini kebanyakan anggota masih bekerja aktif di luar rumah.
Namun, lanjut Adi, pandemi Covid-19 berhasil mengubah sikap seluruh warga RW 4. Khususnya sikap gotong royong dan saling peduli satu sama lain. Walaupun sebelum korona datang, sejatinya seluruh warga telah guyub. Namun, jika dibandingkan saat ini, kondisinya sangatlah berbeda.
Masyarakat tidak hanya peduli tentang lingkungan. Tapi, juga terkait kondisi warga lainnya. Jika diketahui ada warga yang sakit, tanpa komando, mereka bergegas memberikan pertolongan.
Misalnya, membawa ke URC, puskesmas, atau rumah sakit. Selain itu, mereka saling menanyakan kondisi perekonomian satu sama lain. Yang kaya selalu membantu yang membutuhkan. Salah satunya memberikan sembako dan makanan siap saji.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/3gA8sCB