Otak Bisnis Dimas Galih Jalan gara-gara Jeda Kompetisi karena Korona

JawaPos.com – Sadar bahwa pandemi korona bakal berlangsung lama, kiper Persik Kediri Dimas Galih melakukan antisipasi. Bersama sang istri, dia memutuskan berjualan camilan. Hasilnya lumayan.

Sejak manajemen Persik Kediri memutuskan meliburkan aktivitas tim pada 30 Maret lalu, hari-hari Dimas Galih banyak beralih ke dapur. Membantu sang istri Anggita Ratu Septiana membuat berbagai macam camilan kue kering untuk dijual.

Tidak hanya di dapur, pria 27 tahun itu juga harus menjadi tenaga marketing melalui media sosialnya. Menawarkan kue kering hasil kreasi sang istri. Dimas juga yang harus mengantarkan jualan tersebut kepada pembeli. ’’Belum online dan tidak jauh-jauh. Hanya ke tetangga dan rekan-rekan saja,’’ katanya.

Ya, Dimas memang jadi salah seorang pesepak bola yang sudah punya planning sebelum pandemi korona kian merebak di Indonesia. Dia sudah ancang-ancang ketika korona masih menyerang Jakarta. Sudah bersiap tatkala kompetisi belum diliburkan PSSI.

Alasannya, Dimas sadar korona bakal kian menyebar ke seluruh wilayah. Akan berpengaruh pada Liga 1, kompetisi yang diikuti klubnya. Dia sudah menduga pemasukannya dari sepak bola juga pasti berkurang.

Dugaannya benar. Pada 27 Maret lalu, PSSI mengeluarkan surat yang ditandatangani Ketua PSSI Mochamad Iriawan. Selain menjelaskan soal kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang dihentikan hingga 29 Mei, dalam surat tersebut ada opsi pemotongan gaji untuk klub. Klub diperbolehkan membayar para pemain dan pelatih maksimal 25 persen dari kontrak yang disepakati.

Ketika apa yang dia prediksi terjadi, Dimas langsung melakukan eksekusi rencana bisnisnya bersama sang istri. Kebetulan, Anggita punya hobi memasak dan jago membuat camilan kue kering. ’’Kan kompetisi juga belum jelas kapan lanjutnya. Saya sama istri akhirnya memutuskan untuk usaha kecil-kecilan. Yang penting ada pemasukan,’’ tuturnya.

Tambahan pemasukan memang sangat dibutuhkan saat pandemi korona. Gaji yang diterima hanya 25 persen tentu tidak akan cukup untuk kehidupan sehari-hari. Dimas harus menghidupi dua anak dan istri.

Beruntung, walau baru memulai bisnis, penjualan camilan kue keringnya cukup laku. Apalagi ketika Ramadan dan menjelang Idul Fitri lalu. Sehari, kue kering seperti nastar laku keras walau hanya dibeli tetangga dan rekan-rekannya saja. ’’Tapi, tiga hari sebelum hari raya saya putuskan libur dulu. Istri sedang hamil muda, tidak boleh capek-capek,’’ ungkapnya.

Dimas mengaku hasil penjualan camilan kue kering itu lumayan. Walau tidak menyebut berapa banyak nilainya, yang pasti untuk menutup kebutuhan sehari-hari sudah cukup. ’’Alhamdulillah pokoknya,’’ jelasnya, lantas tersenyum.

Mantan pemain Persebaya Surabaya itu mengungkapkan, untuk memulai lagi usahanya tersebut, dirinya masih melihat kondisi kehamilan Anggita. Dimas tidak mau memaksakan.

Yang jelas, bisnis yang dijalaninya itu akan diteruskan. Pria kelahiran 23 November 1992 tersebut bersyukur pandemi korona sudah memberikan banyak pelajaran. ’’Kalau tidak begini, mungkin saya tidak berpikir untuk berbisnis. Ini jadi pelajaran saya sama istri untuk merintis bisnis kecil-kecilan, bekal masa depan,’’ tuturnya.

Tapi, dalam hatinya, Dimas tetap ingin pandemi korona hilang. Sebab, dia masih ingin meraih prestasi di sepak bola. Prestasi terakhir yang didapat adalah berhasil mengantarkan Persebaya naik kasta ke Liga 1 pada 2017 lalu. ’’Ya semoga sepak bola segera dimulai lagi. Saya sudah gatal ingin bermain lagi,’’ ucapnya.

from JawaPos.com https://ift.tt/2XIWuxN

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai