Taklukkan Tantangan Era Pandemi dengan Strategi

JawaPos.com – Kaget, menyangkal, mengakui, bertahan, bangkit. Tahapan itu dialami hampir semua orang sejak persebaran virus SARS-CoV-2 semakin luas. Para pengusaha pun mengalami fase demi fase itu. Pada tahap bertahan, berbagai upaya dilakukan. Salah satunya, menerapkan strategi bisnis anyar.

Ambruknya industri pariwisata membuat pengusaha hotel fokus pada layanan food and beverages (F&B). Berkurang drastisnya agenda meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) dan merosotnya okupansi disiasati dengan menawarkan paket menginap murah dan isolasi mandiri di hotel.

Kini berbagai hotel menawarkan paket makanan delivery. “Ya, ini yang bisa kami lakukan sebagai survival mode,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Jawa Timur (PHRI Jatim) Dwi Cahyono Rabu lalu (27/5).

Bukan hanya hotel, PT Aerofood Indonesia (Aerofood ACS) pun menerapkan strategi yang sama. Beberapa bulan terakhir bisnis inflight food nyaris mandek karena penerbangan amat dibatasi.

Bisnis industrial food yang menjajakan layanan katering makan siang dan acara-acara korporasi juga menurun karena imbauan bekerja dari rumah (work from home). Alhasil, anak usaha Garuda Indonesia itu melirik bisnis paket makanan yang menyasar konsumen ritel.

“Sebenarnya ini kami jalankan sejak lama. Tapi, April lalu kami lebih serius menggarapnya karena potensinya besar,” ujar Sales and Customer Service Manager Aerofood ACS Surabaya Dian Ferry Hartanto.

Perseroan menjual paket healthy food seperti salad, nasi merah, dan jus kacang hijau. Untuk menyasar konsumen yang lebih suka menyajikan makanannya sendiri, Aerofood ACS juga menjual frozen food.

“Ini banyak yang minat,” imbuh Ferry.

Saat ini perseroan bahkan mengurus izin produksi dan penjualan produknya agar bisa segera dipasarkan di supermarket. “Sementara ini kami menyiasatinya dengan open preorder dan mengerahkan karyawan untuk memasarkan ke tetangga, saudara, atau kolega,” paparnya.

Bukan hanya sektor industri yang terpukul. Banyak event pun terpaksa ditunda dan dibatalkan gara-gara pandemi Covid-19.

Event organizer pun harus putar otak agar bisa bertahan. Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jatim Yusuf Karim Ungsi mengatakan, saat ini sudah banyak webinar, konser, dan event dalam jaringan (daring). Bahkan, dia memprediksi konser drive-in bisa menjadi tren.

“Orang datang menikmati tontonan atau penampilan seni tanpa turun dari mobil karena harus jaga jarak. Itu bisa jadi tren lama yang akan booming kembali,” ucap Yusuf.

Namun, konser dan pameran daring tidak akan pernah memuaskan pengunjung. Karena itu, Asperapi tetap merancang konsep pameran offline yang sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Sementara itu, lesunya industri alas kaki menuntut para pengusaha kreatif. Mengutip data Aprisindo, pandemi Covid-19 membuat kinerja produksi sepatu nasional turun hingga 70 persen.

Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Heru Budi Susanto mengatakan, kini banyak pengusaha yang beralih bikin sandal atau sepatu kasual untuk sehari-hari. Sebab, mayoritas pemakai sepatu kini work from home. “Yang terbiasa memproduksi sepatu kulit dan sepatu resmi kini mulai pindah ke sandal,” urainya.

Ketua Bidang Mainan Kayu APMI Winata Riangsaputra menuturkan, industri mainan dalam negeri juga tertekan sejak pertengahan Maret. Karena itu, mereka berinovasi.

Contohnya, beberapa industri mainan boneka sudah beralih memproduksi masker dan APD (alat pelindung diri). “Sebab, pengusaha boneka punya mesin jahit. Jadi, mereka bisa menggarap peluang itu,” terangnya.

Data APMI menunjukkan, sekitar 15 persen industri mainan boneka beralih membuat masker kain dan APD. Semua itu dilakukan agar cash flow perusahaan terjaga.

Di sisi lain, industri jamu juga tak kalah agresif berinovasi. Owner PT Jamu Iboe Jaya Stephen Walla menuturkan, untuk produk jamu yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh, demand melonjak.

Misalnya temu lawak, kunir, dan jahe. Kenaikannya mencapai tiga kali lipat jika dibandingkan dengan sebelum pandemi.

“Kami kemas dalam bentuk minuman herbal agar bisa diterima semua segmen dan usia. Itu inovasi kami,” tegasnya.

Sementara itu, LinkAja sebagai platform uang elektronik menyediakan solusi pembayaran belanja daring di 18 pasar tradisional Jakarta. Antara lain, Pasar Senen, Pasar Jaya Gondangdia, pasar Kebayoran Baru, Pasar Santa, Pasar Mayestik, pasar Pantai Indah Kapuk, hingga pasar Muara Angke.

Menurut Direktur Utama LinkAja Haryati Lawidjaja, itu menjadi komitmen mereka untuk mengakselerasi inklusi keuangan pasar tradisional serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kami bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam proses revitalisasi pasar tradisional untuk menyediakan solusi pembayaran online,” kata Haryati.

Langkah yang hampir sama ditempuh BNI Syariah lewat aplikasi uang elektronik syariah HasanahKu. Melalui aplikasi tersebut, nasabah bisa membeli token dan membayar tagihan listrik.

“Top up saldo HasanahKu dapat dengan mudah dilakukan melalui ATM, mobile banking, internet banking, dan SMS banking,” terang Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo.

from JawaPos.com https://ift.tt/2TQmpCw

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai