Enam Buku Gratis Seri Wacana Sinema

JawaPos.com– Komite Film Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi program Seri Wacana Sinema 2019 yang mencakup berbagai tema relevan bagi perfilman Indonesia. Tujuan penerbitan ini adalah menyediakan rujukan teoritik hingga praktikal seputar perfilman di Indonesia maupun di dunia. ’’Ini adalah seri buku pertama yang diterbitkan oleh Komite Film Dewan Kesenian Jakarta,’’ terang Fransiskus Sena dari bagian publikasi Dewan Kesenian Jakarta. Kini, publik dapat mengakses buku-buku tersebut melalui tautan ini.

Serial buku tersebut dapat diunduh melalui laman Dewan Kesenian Jakarta sejak April 2020 lalu. Ada enam judul buku dalam seri pertama ini. Keenamnya adalah Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam, Tilas Kritik: Kumpulan Tulisan Rumah Film 2007-2012; Direktori Festival Film Dunia dan Indonesia; Menonton Penonton: Khalayak Film Bioskop di Tiga Kota (Jakarta, Bandung, Surabaya); Antarkota, Antarlayar: Potret Komunitas Film di Indonesia; dan Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru.

Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam berisi kumpulan tulisan dalam rentang waktu sekitar 10 tahun (2008-2018). Ulasan seputar film yang merepresentasikan masalah umat Islam secara khusus, film tentang dinamika dunia Islam secara global, film bertema Islami popular, film tentang sejarah dan sejarah film termasuk biopic dan film Islami sebagai kritik sosial menjadi tema besar buku ini. Buku ini ditulis oleh Ekky Imanjaya dengan penyunting Ifan Ardiansyah Ismail.

Buku ke dua bertajuk Tilas Kritik, Kumpulan Tulisan Rumah Film (2007-2012) adalah sebuah upaya menanggapi kebutuhan akan kritik dan jurnalisme film yang progresif di Indonesia. Secara ringkas, buku ini merupakan dokumentasi kultural baik tentang film Indonesia dan dunia pada periode itu maupun, terutama, tentang kritik dan jurnalisme film mutakhir besutan rumahfilm.org yang kini tak lagi aktif. Buku ini memuat tulisan karya Asmayani Kusrini, Ekky Imanjaya, Eric Sasono, Hikmat Darmawan, Ifan Adriansyah Ismail, dan Krisnadi Yuliawan. Lalu, ada pula tulisan para kontributor seperti Bobby Batara, Donny Anggoro, Hassan Abdul Muthalib, Intan Paramaditha, Veronika Kusumaryati, Ade Irwansyah, Grace Samboh, Homer Harianja, dan Windu Jusuf.

Buku ke tiga berjudul Direktori Festival Film Dunia dan Indonesia bertolak dari maraknya festival film di berbagai negara. Tak semua festival itu bertahan. Namun, semua festival tersebut memiliki semangat yang sama untuk menjadi muara perkembangan bahkan produksi estetika, wacana, serta kritik. Buku ini berusaha untuk merekam festival-festival film yang berpengaruh dalam perjalanan sejarah film. Buku ini disusun oleh Komite Film Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan COFFIE (Coordination for Film Festival in Indonesia). Nauval Yazid menjadi penulis buku dengan dukungan Damar Ardi, Varadila dan Netta Anggraeni sebagai peneliti.

Buku Menonton Penonton: Khalayak Film Bioskop di Tiga Kota adalah buku yang diadaptasi dari penelitian yang mengeksplorasi perubahan karakteristik dan perilaku penonton film bioskop di era Internet pita lebar. Tak cuma mengisi kekosongan kajian penonton film, buku ini juga bisa jadi sumber berharga untuk peminat film, terutama para pembuat dan pemasar film. Buku ini ditulis oleh Dyna Herlina S., Kurniawan Adi Saputra dan Firly Annisa dengan penyunting Hilman Handoni.

Buku ke lima secara khusus memuat potret komunitas film Indonesia secara lengkap dan menyeluruh. Di Indonesia, eksistensi komunitas film boleh jadi terbilang baru bila dibandingkan dengan komunitas seni lainnya. Namun, sebagai gagasan, praktik-praktik serupa atau purwarupa komunitas bisa kita temukan jauh sebelumnya, bahkan hingga awal masa kemerdekaan Indonesia. Buku ini ditulis oleh Levriana Yustriani, Adrian Jonathan Pasaribu, dan Deden Ramadani. Selain menulis, mereka juga bertugas menjadi peneliti yang menggali informasi di sekitar tema buku ini.

Buku terakhir bertema Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru. Buku ini adalah karya Katinka van Heeren. Buku ini dapat berfungsi sebagai tinjauan sosio-historis tentang bagaimana Reformasi membuka peluang baru bagi perkembangan film Indonesia, serta bagaimana nilai serta perspektif rezim terdahulu tetap terlanggengkan pada era baru kini. Buku yang berangkat dari disertasi ini membahas berbagai isu dan praktik perfilman, mulai dari dikotomi film arus utama dan alternatif, penyelenggaraan festival film, pembajakan film, sejarah, siaran televisi, film Islam, hingga praktik sensor film oleh negara maupun sipil. (tir)

 

from JawaPos.com https://ift.tt/2Mkll5H

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai