PSSI menilai melanjutkan kompetisi dengan protokol ketat atau menggantinya dengan turnamen merupakan pilihan paling masuk akal. Tapi, di balik berbagai perhitungan, ada yang mengingatkan, tidakkah kita saat ini sebaiknya fokus sehat saja dulu?
FARID S.M., Jakarta–W. ADINIA, Surabaya, Jawa Pos
—
ADA ratusan pemain yang tergabung di 18 klub Liga 1. Kalau kompetisi sepak bola strata teratas di tanah air itu tidak dilanjutkan, sudah pasti mereka kehilangan mata pencaharian.
Bisa dibayangkan pula kesulitan pelatih tim nasional (timnas) Shin Tae-yong yang harus mempersiapkan skuad untuk Piala AFF di akhir tahun ini. Tak bisa memantau dan sudah pasti pula kondisi fisik serta psikis pemain yang akhirnya dipanggil tak sepenuhnya prima.
Tapi, di sisi lain, di tengah angka penularan virus korona yang masih tinggi, di tengah ketidakdisiplinan masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang tumpang-tindih, melanjutkan kompetisi bukankah berarti membuka peluang terciptanya klaster baru?
Itu belum persoalan finansial yang harus dihadapi klub. Di saat kehilangan pemasukan karena harus main tanpa penonton, mereka masih harus menyediakan dana untuk rapid test, transportasi dan ruang ganti tambahan, serta detail protokol kesehatan lain. Padahal, tiap-tiap tim masih punya tanggungan sisa puluhan pertandingan karena rata-rata baru main 2-3 kali dari total 34 laga.
PSSI sampai saat ini masih menggodok tiga opsi terkait kelanjutan kompetisi. Pertama, melanjutkan dengan protokol kesehatan dan tanpa penonton. Kedua, menghentikan dan mematangkan kompetisi baru musim depan. Dan terakhir, menghentikan serta menggantinya dengan turnamen.
Klub-klub juga masih berbeda pandangan, terbagi ke dalam tiga kubu sesuai opsi yang disiapkan PSSI itu (lihat grafis). Tapi, apa pun preferensi mereka, dari hasil virtual meeting Liga 1 dan Liga 2 belum lama ini, masalah keuangan jadi faktor yang paling banyak dikeluhkan klub kepada PSSI.
Ekonomi yang melemah karena pandemi Covid-19 otomatis juga berdampak pada bisnis klub-klub. Tidak ada pertandingan, otomatis tanpa pemasukan. Penjualan merchandise pun kebanyakan lesu karena tidak ada kompetisi.
”Kami memahami kesulitan klub dalam memenuhi kewajiban kepada pemain dan pelatih,” terang Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi.
PSSI, kata Yunus, juga tidak akan gegabah mengambil keputusan. Bakal menggodok semua saran yang sudah disampaikan klub. Termasuk APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) dan APSSI (Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia) terkait lanjut atau tidaknya kompetisi.
Sejauh ini, lanjut Yunus, seluruh saran sudah disimpulkan dan dilaporkan kepada Ketua Umum PSSI Moch. Iriawan. Nanti keputusan bagaimana nasib kompetisi bakal dikeluarkan setelah adanya rapat anggota Exco (Executive Committee) PSSI yang mungkin digelar pekan depan.
Namun, opsi pertama dan ketiga memang paling masuk akal. Menurut Yunus, sepak bola harus tetap ada. Selain demi klub, juga untuk kebaikan timnas.
Yunus menerangkan, dokter timnas Syarief Alwi sudah menyampaikan kepada PSSI beberapa protokol kesehatan yang harus dijalankan. ”Mulai awal tim berangkat ke hotel, menginap, sampai bertanding dan selesai. Dan itu butuh kerja sama semua pihak,” tuturnya.
Setidaknya ada enam tim yang mengusulkan agar kompetisi musim 2020 tetap dilanjutkan. Persiraja Banda Aceh, Borneo FC, Persib Bandung, Bali United, Tira Persikabo, dan Arema FC. Enam klub itu menyanggupi untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Di Liga Korea yang sudah berjalan kembali, sebagai contoh, tiga jam sebelum stadion dibuka, dilakukan sterilisasi. Kedatangan pemain pun diatur agar tidak berbarengan. Pengecekan suhu tubuh kepada pemain dan ofisial pertandingan pun diberlakukan. Bahkan, pemain cadangan diwajibkan memakai masker dan sarung tangan.
”Kalau memang nanti PSSI dan PT LIB (Liga Indonesia Baru) akan memberlakukan seperti itu, ya kami harus mematuhi,” tutur General Manager Arema FC Rudi Widodo.
Arema FC juga mengusulkan, apabila kompetisi dilanjutkan, lebih baik difokuskan di Pulau Jawa. Dengan begitu, setiap tim bisa melakukan perjalanan dengan jalur darat, terutama menggunakan bus.
”Kan tol di Jawa sekarang juga sudah bagus, lebih mudah. Ini juga akan meminimalkan aktivitas di bandara,” sarannya.
Sementara itu, Presiden Borneo FC Nabil Husien menyebutkan, tidak ada salahnya PSSI mencontoh kebijakan dari negara-negara yang tetap melanjutkan kompetisi. ”Memang harus diperketat seperti negara lain agar kompetisi bisa dilangsungkan. Kalau nanti federasi sudah memutuskan, ya kami akan melaksanakan,” ucapnya.
Jika kompetisi dilanjutkan, PSSI juga harus segera merespons permintaan klub untuk menaikkan subsidi hingga revisi kontrak kepada pemain dan pelatih. Yunus menegaskan bahwa pihaknya sudah memikirkan hal tersebut. Karena itu, ketika rapat virtual dengan klub, perwakilan LIB selaku operator juga diajak.
Direktur Bisnis LIB Rudy Kangdra berjanji bahwa pihaknya siap menambah subsidi jika kompetisi dilanjutkan. Penambahan tersebut merupakan ganti pemasukan dari penonton yang tentu ketika kompetisi dilanjutkan, sesuai protokol kesehatan, pertandingan tidak boleh dihadiri penonton.
”Tahun ini liga untung, kalaupun berjalan sesuai dengan kontrak sebelumnya, untuk nambah subsidi sanggup,” katanya.
Sementara itu, General Manager APPI Ponaryo Astaman menegaskan, seluruh pemain memilih opsi kompetisi dilanjutkan. Tapi, tentu saja, keselamatan mereka, juga semua yang terlibat dalam pertandingan, tetap jadi prioritas utama. Protokol kesehatan tidak hanya dilakukan saat pertandingan, tapi juga ketika latihan.
Selain itu, pemain siap duduk bersama dengan klub. Hal tersebut tentu untuk membicarakan atau bernegosiasi masalah kontrak. ”Pemain terbuka dan siap duduk bersama klub,” ujarnya.
Tapi, di balik berbagai perhitungan plus-minus itu, mungkin ada baiknya semua pihak mendengarkan alasan Direktur Olahraga Persija Jakarta Ferry Paulus tentang kenapa liga sebaiknya dihentikan: ”Saat ini lebih baik kita fokus sehat saja dahulu.”
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/3cqchHr