JawaPos.com – Indra Kahfi sebetulnya sudah menyiapkan ’’sekoci’’ sebelum ada pandemi. Februari lalu dia membuka usaha kedai kopi. Baru sebulan buka, pandemi melanda. Namun, dalam kondisi yang serbasulit, Indra berusaha agar bisnis barunya itu bertahan.
Dalam suatu kesempatan, Indra Kahfi Ardhiyasa pernah berseloroh bahwa dirinya sangat menyukai kopi. Baik rasa maupun aromanya. Rasa cinta itu tumbuh sejak 2014. Tepatnya ketika dia masih membela PSPS Pekanbaru. Indra mulai ketagihan ngopi ketika PSPS melawat ke markas Persiraja Banda Aceh.
’’Awalnya, saya lebih cenderung suka teh. Tapi, saat kali pertama mencoba kopi di Aceh, langsung suka,’’ kata Indra. ’’Saya suka kopi dengan tambahan sedikit karamel. Rasanya top banget dah,’’ lanjut kapten Bhayangkara FC itu dengan logat Betawi-nya.
Dari rasa suka itu, ide bisnis Indra muncul. Dia kepikiran untuk membuka kedai kopi. Terlebih, pemain yang berposisi sebagai bek tersebut melihat lingkungannya di kawasan Jagakarsa belum ada kedai kopi yang menggunakan mesin modern.
Akhirnya, dengan dukungan sang istri, Fraya Inaya, Indra mendirikan kedai kopi pada Februari lalu. Kedai itu diberi nama Musim Kopi 27. Di kedainya tersebut, Indra tidak hanya menjual kopi. Dia juga menjual aneka macam kudapan.
Sayang, belum lama kedai kopinya berdiri, pandemi Covid-19 melanda Indonesia, termasuk Jakarta. Pandemi itu membuat usahanya terganggu. ’’Pemasukan dari kafe jadi berkurang 50 persen,’’ ucapnya.
Indra menerangkan, sejak ada pandemi Covid-19, Musim Kopi 27 tidak bisa dijadikan tempat nongkrong. ’’Sementara ini kafe hanya melayani take away,’’ ungkap pesepak bola yang sempat merumput bersama Persitara Jakarta Utara tersebut.
Indra menyatakan tidak mudah menjalani bisnis di tengah pandemi virus korona. Namun, mantan pemain Deltras Sidoarjo tersebut tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia berusaha keras agar kedai kopinya tidak gulung tikar.
’’Saat ini saya memiliki empat karyawan di kafe. Mereka harus tetap digaji. Karena itu, bagaimanapun caranya, jangan sampai usaha saya gulung tikar,’’ tegasnya.
Agar upayanya mempertahankan bisnis kedai kopi saat pandemi berjalan lancar, Indra Kahfi harus menghemat pengeluaran. Terlebih, gajinya sebagai pesepak bola di Bhayangkara FC berkurang 75 persen tiap bulan.
’’Mau gaji full tapi boros, menurut saya, sama saja tetap merasa kurang. Tapi, kalau mendapatkan gaji 25 persen dan bisa mengatur dengan baik pengeluarannya, saya rasa bisa dicukup-cukupin,’’ paparnya. ’’Jadi, yang terpenting ada di pengeluaran,’’ tuturnya.
Dari pandemi yang melanda saat ini, Indra banyak menarik hikmah dan pelajaran. Yakni, dia tidak bisa selamanya menggantungkan hidup dari sepak bola. Indra pun sudah memiliki rencana jangka panjang. Dia menyadari bahwa karir sebagai pesepak bola hanya sebentar. ’’Karena itu, investasi sangat penting dan harus disiapkan dari sekarang. Jadi, saat sudah tidak aktif bermain bola, saya siap berinvestasi di bidang lain,’’ ucap pesepak bola yang juga berstatus anggota Polri itu.
Beruntung, Indra sudah memiliki bisnis kedai kopi. Namun, seiring berjalannya waktu, pemain bernomor punggung 27 itu ingin membuka usaha-usaha lain. ’’Ya, ada niat mengembangkan usaha-usaha lain. Tapi, nanti nunggu saat yang tepat,’’ paparnya. Menjadi pelatih? ’’Belum kepikiran,’’ jawabnya, lalu tersenyum.
from JawaPos.com https://ift.tt/36M7fDH