Lakukan Swab Tes di Gelora Pancasila hingga RSUD Soewandhie

JawaPos.com – Mobil laboratorium polymerase chain reaction (PCR) bantuan BNPB yang sempat diributkan akhirnya kembali ke Surabaya. Pemkot langsung mengadakan tes swab yang sempat tertunda.

’’Kami gelar tes swab di Gelora Pancasila, Husada Utama, Soewandhie, dan Menur,’’ jelas Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Surabaya Febria Rachmanita Sabtu (30/5).

Jumlah peserta tes di Gelora Pancasila paling banyak. Ada 300 orang reaktif yang dites. Di RSUD dr M. Soewandhie, 150 orang dites, RS Husada Utama (100 orang), dan RSJ Menur (50 orang).

Mereka yang dites adalah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), orang tanpa gejala (OTG), dan orang dalam risiko (ODR). Semuanya sudah menjalani rapid test. Hasilnya, mereka reaktif. Tes melalui PCR itu akan menentukan mereka positif Covid-19 atau tidak.

Feni menjelaskan, mereka yang reaktif bakal ditempatkan di hotel hingga hasil tes swab keluar. Masalahnya, keluarnya hasil tes swab tidak bisa diprediksi. ’’Jika negatif, akan dipulangkan,’’ katanya.

Mereka yang positif pun terbagi menjadi dua. Pertama, memiliki gejala Covid-19 seperti demam dan flu serta. Kedua, tidak ada gejala atau terlihat sangat sehat, tetapi virus tersebut sudah berada dalam tubuhnya. Mereka yang digolongkan sebagai OTG itu dirawat dan diisolasi di Asrama Haji. Fasilitas untuk calon jamaah haji (CJH) tersebut memang sudah sebulan ini disulap sebagai ruang isolasi. Asrama itu dilengkapi fasilitas kesehatan dan klinik.

Feni menuturkan, tes swab besar-besaran ini diharapkan bisa memotong laju penularan Covid-19. Makin banyak pasien positif yang terdeteksi, kontrol atas persebarannya bisa ditekan dengan isolasi.

Persoalan mobil PCR yang sempat mencuat juga menjadi perhatian kalangan dewan. Banyak yang mengusulkan agar pemkot membeli sendiri fasilitas tersebut.

Bahkan, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah menanyakan soal itu kepada Kadinkes. Menurut dia, jika memungkinkan, Surabaya memang harus membeli mobil PCR. ’’Masalahnya, harga satu unitnya itu Rp 10 miliar,’’ ungkap Khusnul kemarin.

Anggaran tersebut tentu terbilang cukup besar bagi Pemkot Surabaya. Sebab, pendapatan pemkot dari sektor pajak menurun drastis. Kondisi ekonomi kota lesu gara-gara pandemi.

Khusnul menyebutkan, pendapatan terbesar pemkot berasal dari sektor pajak. Khususnya pajak bumi dan bangunan (PBB) serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Gabungan keduanya lebih dari Rp 2,5 triliun.

Disusul pendapatan dari sektor pajak hotel, restoran, parkir, dan reklame. Pendapatan dari sektor itu merosot drastis. Karena itulah, pemkot harus pintar-pintar mengatur keuangan. ’’Angka belanja tahun ini yang mencapai Rp 10 triliun itu kan hanya di kertas. Realisasinya sangat bergantung pada sektor pendapatan,’’ terangnya.

300 Orang Ikuti Uji Swab

Uji swab test masal berlangsung di Gelora Pancasila kemarin siang (30/5). Upaya tersebut digelar guna memastikan data yang terkonfirmasi positif.

Swab test dilakukan dengan bantuan mobil PCR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat. Warga yang mengikuti tes adalah yang sudah melakukan rapid test dan hasilnya reaktif. ”Kami hanya menyiapkan tempat dan memfasilitasi kegiatan tersebut,” terang Camat Wonokromo Tomi Ardiyanto, Sabtu (30/5).

TETAP JAGA JARAK: Ratusan orang menunggu untuk menjalani swab test di Gelora Pancasila, Sabtu (30/5). (Dipta Wahyu/Jawa Pos).

Total terdapat 300 warga yang menjalani pemeriksaan. Mereka berasal dari berbagai wilayah. Swab test digelar guna memastikan terpapar apa tidaknya. Sebab, dari hasil tes sebelumnya, semua warga tersebut reaktif. ”Semua warga yang datang mendapat undangan dari dinkes melalui puskesmas,” katanya.

Miftahul Ulum, salah seorang warga, menuturkan bahwa dirinya datang untuk mengantar orang tuanya yang dari hasil tes swab awal adalah positif. Bahkan, orang tuanya itu sempat menjalani karantina mandiri. ”Ini dapat undangan dari puskesmas, katanya disuruh tes lagi,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan warga lain yang enggan menyebutkan namanya. Dia menjelaskan, kedatangannya untuk swab test tak lain guna memastikan hasil rapid test dari perusahaannya. Saat itu hasilnya reaktif. Dia juga sempat menjalani tes swab di salah satu rumah sakit swasta. Namun, hasilnya belum keluar.

Setelah menjalani swab test, warga dipersilakan untuk pulang. Sebab, hasilnya akan diberi tahu melalui telepon. ”Bila positif, langsung mendapatkan penanganan lanjutan,” kata Tomi.

Saksikan video menarik berikut ini:

from JawaPos.com https://ift.tt/2ZUXZvM

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai