MENTERI Komunikasi Rimba Raya Kancil menjelaskan perihal era New Normal. Makhluk yang banyak belajar dari manusia saat dahulu ditahan di perkampungan budaya gegara nyolong timun itu mengawali pidatonya dengan maaf lahir dan batin.
’’Maaf lahir-batin juga, Brooooo …”
Semua hormat merespons kancil. Maklum, gajah, banteng, siamang, tengu, dan lain-lain hingga undur-undur merasa berutang rasa kepadanya. Kancillah yang dahulu memprakarsai gerakan pemberantasan buta huruf seisi rimba berlandas huruf-huruf yang dicolongnya saat disandera warga.
Pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro mengisyaratkan agar kancil melanjutkan pidatonya.
’’Baiklah. Jadi, soal New Normal itu begini. Dalam suasana Normal, kita saling memaafkan. Hiena dan macan saling memaafkan. Semua sudah tahu, tapi mungkin undur-undur belum mahfum, hiena itu mengais sisa-sisa makanan macan. Tapi, ada oknum macan yang kalau makan rusa ludes tak bersisa. Menghina hiena. Sebaliknya, ada macan yang belum selesai menyantap kijang, belum membuat sisa proyek, oknum-oknum hiena sudah datang mengeroyok minta bagian. Padahal, jatah mereka bancakan sisa proyek. Nah, di zaman normal, hiena dan macan mutualan memaafkan. Nol-Nol.”
’’Oknum disebut itu hiena-hiena mengapa?” undur-undur protes dengan gaya bahasa yang, seperti biasa, harus kita dengar mundur-mundur menjadi ’mengapa hiena-hiena itu disebut oknum?’.
Maksud makhluk yang tak bisa menyanyi Maju Tak Gentar itu, lebih baik mereka disebut ’anggota’ daripada disebut ’oknum’. Agar kelompoknya tak bisa ngeles dari rasa bertanggung jawab. Kelompok itu tak bisa lain mesti terus-menerus membina para anggotanya.
Raja singa menyela, ’’Protes atau pertanyaan ini dari oknum undur-undur atau dari anggota undur-undur?”
’’Undur-undur anggota dari!!!” seluruh undur-undur menjawab.

Raja singa tersenyum. Sebagai ungkapan senasib dengan rakyatnya, raja ingin bicara atret menirukan gaya undur-undur, namun kelu di lidah. Ratu singa tanggap. Ia mewakili suaminya bicara mundur, ’’Pidatonya melanjutkan kancil biarkan sekarang. Kali lain bahas kita undur-undur anggota pertanyaan.”
’’Baiklah. Bukan cuma hiena dan macan,” lanjut kancil. ’’Dulu semua saling memaafkan. Kemudian meruaklah virus dendam. Virus ini membuat orang tidak sudi memaafkan. Menularnya melalui tangan. Siapa yang melambaikan tangannya akan menularkan virus. Angkat tangan juga menularkan.”
’’Kancil Pak, menyerah karena atau jawab bisa karena tangan angkat?” tanya oknum, eh, anggota undur-undur.
’’Dua-duanya! Apalagi sampai salaman!”
Seluruh hadirin saling menoleh. Yang di awal pertemuan tadi bersalam-salaman mulai merasa waswas. Kecemasan itu segera mereka enyahkan demi mendengarkan pidato kancil yang berjasa membuat mereka melek aksara.
Menurut kancil, penularan virus dendam itu makin cepat dan terus semakin cepat. Kurvanya eksponensial sampai akhirnya menuju puncak. Sampai tiba suatu masa kurva itu turun hingga melandai. Melandai berarti penularannya tidak bertambah, walau juga tidak berkurang menjadi nol seperti dahulu pada keadaan Normal ketika semua ikhlas saling memaafkan menjadi Nol-Nol. Nah, kurva landai yang tidak di sumbu Y=0 itulah yang disebut New Normal.
’’Kita sekarang masih di titik menuju puncak kurva!” kancil seperti menakut-nakuti.
Sekali lagi seluruh hadirin saling menoleh. Mereka panik karena tersentak bahwa era New Normal sejatinya masih jauh. Oknum, eh, anggota pe-New (penyu) menenteramkan massa.
’’Itu kan New Normal mazhab Pak Kancil. Sedangkan dunia ini bermazhab-mazhab,” tutur anggota pe-New. ’’Yang penting, bagaimana New Normal ini tidak me-New-sahkan telur-telur yang kami me-New-ngsepkannya di pasir pantai, tapi juga tidak me-New-dutkan berangasannya para ok-New-m pemangsa telur kami.” (*)
*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/2ZUc5NK