Kerusuhan AS Hingga Kematian George Floyd Tekan Harga Minyak Dunia

JawaPos.com – Harga minyak dunia pada awal pekan ini kembali merosot karena kecemasan terhadap kerusuhan di kota-kota besar Amerika Serikat (AS). Sebab, hal itu dapat mengganggu permintaan setelah diperdagangkan lebih tinggi di tengah optimisme OPEC akan memperpanjang atau meningkatkan pemotongan produksi pada pertemuan Juni.

Mengutip laman Reuters, Senin (1/6), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli, patokan AS, diperdagangkan turun 24 sen menjadi USD 35,25 per barel pada pukul 05.35 WIB. Kontrak WTI melonjak USD 1,78, atau 5,3 persen pada penutupan Jumat lalu.

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melemah 16 sen menjadi USD 37,68 per barel, pada hari pertama perdagangan Agustus sebagai kontrak front month. Kontrak Agustus melambung USD 1,81, atau sekitar 5 persen, pada perdagangan Jumat lalu.

Seperti diketahui, kerusuhan selama akhir pekan lalu melanda kota-kota besar di AS. Bahkan aksi kekerasan selama Minggu kemarin lebih banyak termasuk kematian George Floyd saat berada dalam tahanan polisi.

Demonstrasi di AS dipicu kematian Floyd yang meninggal akibat seorang polisi kulit putih Minneapolis berlutut di lehernya. Preseden ini menjadi gelombang kemarahan yang melanda negara tersebut, yang terpecah secara politik dan ras.

Analis Price Futures di Chicago Phil Flynn mengatakan, ekspektasi OPEC dan sekutunya yang memajukan timeline bagi pertemuan Juni memberikan dukungan kepada pasar. Rusia tidak keberatan dengan pertemuan OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, dimajukan menjadi 4 Juni dari pekan berikutnya

“Rumor tentang pemotongan produksi tambahan dan tanggal pertemuan sebelumnya membuat pasar bergerak lebih tinggi,” tuturnya.

Aljazair, yang saat ini memegang kursi kepresidenan OPEC, mengusulkan pertemuan yang direncanakan pada 9-10 Juni dimajukan untuk memfasilitasi penjualan minyak bagi sejumlah negara seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.

Kedua tolok ukur tersebut mengalami kenaikan bulanan yang tajam karena jatuhnya produksi global dan ekspektasi untuk pertumbuhan permintaan ketika negara bagian AS, termasuk New York City, dan negara lain bergerak untuk membuka kembali perekonomiannya setelah lock-down terkait virus korona.

from JawaPos.com https://ift.tt/2yV1SWq

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai