Warga dilibatkan dalam pencegahan Covid-19. Mulai pelurusan informasi hoaks, gotong royong permakanan, hingga pengawasan jalannya protokol kesehatan. Mereka bergantian berjaga di pos pantau. Siang ibu-ibu, malam bapak-bapak.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
Teriakan suara pemuda karang taruna di RT 1, RW 12, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, memecah lalu-lalang kendaraan di Jalan Jojoran III . Itu dilakukan ketika mereka mengingatkan seorang pengendara motor tanpa masker. Ibu-ibu PKK pun tanpa ragu menghadang siapa saja yang melanggar.
Pengendara diminta memakai masker yang dibawa. Setelah itu, mereka bisa melintas. Jangan harap bisa menembus barisan emak-emak dan remaja yang jaga di pos pantau itu tanpa melaksanakan protokol kesehatan.
Susiana, salah satu anggota PKK, mengatakan bahwa dirinya dan warga di sana memang sudah sepakat. Siapa saja yang melanggar harus ditindak tegas. Minimal dihentikan untuk mengenakan masker. Jika ngeyel, pengendara itu harus putar balik. ’’Nggak pandang bulu, pokoknya kalau melintas di sini ya harus ikut aturan di sini,’’ paparnya.
Satu jam berjaga di pos pantau, setidaknya para remaja di sana sudah berteriak lima kali. Untung ada sound system yang sudah disediakan. Tidak sampai membuat tenggorokan sakit.
RT 1 merupakan salah satu Kampung Tangguh di Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng. Kampung itu dibentuk sebagai upaya untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan Covid-19. Tugasnya pun cukup kompleks. Mulai pengawasan hingga pencegahan. Kampung tersebut juga dibina pihak kepolisian.
Ketua RT 1, RW 12, Arief Rahmanto mengatakan bahwa di wilayahnya memang sudah ada warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kini warga tersebut sudah mendapat penanganan dari tim medis. ’’Nah, sekarang tinggal kami yang bergerak untuk memastikan tidak ada warga lain yang tertular,’’ ucapnya.
Dia mengatakan, salah satu upayanya adalah mendirikan pos pantau di sana. Setiap warga yang keluar-masuk dipastikan sudah mengenakan alat pelindung diri (APD) yang disarankan agar terhindar dari penularan saat di luar.
Kemudian, penjagaan pos pantau juga melibatkan berbagai unsur masyarakat. Mulai remaja, ibu-ibu, sampai bapak. Pagi hingga sore diprioritaskan yang menjaga remaja dan ibu-ibu. Khusus malam jadi tugas bapak-bapak.
Namun, pihaknya tidak memaksa semua warga untuk ikut berjaga. Sebab, tidak semua warga memiliki waktu luang. Namun demikian, pos itu tidak pernah sepi. ’’Bahkan sampai bingung gimana bagi jadwalnya,’’ ucap Arief.
Warga yang jaga di sana pun punya tugas tambahan, yakni absen sehat. Saban hari dilakukan pengecekan ke rumah-rumah warga. Tujuannya, memastikan penghuninya tetap aman dan kondisinya fit.
Dia mengatakan, keterlibatan ibu-ibu dan karang taruna perempuan memang jitu saat mengatasi warga atau pengendara yang mokong. ’’Kalau bapak-bapak yang maju, waduh bisa gegeran malahan. Tapi, beda kalau ibu-ibu yang maju, pelanggar itu pasti nurut,’’ katanya.
Selain itu, pihaknya menyediakan masker gratis. Khusus bagi pengendara yang belum punya atau lupa bawa. Juga, membantu pemenuhan warga yang sedang menjalani karantina mandiri. ’’Ya, kadang ada yang perlu popok, susu, atau keperluan lain. Kita yang bantu secara swadaya,’’ jelas Arief.
Berbagai cerita pun mengiringi mereka yang berada di garis depan Kampung Tangguh. Misalnya, yang dialami Susiani yang juga istri Ketua RW 12 Suyadi. Waktu itu suaminya tidak fit. Praktis, dalam masa genting seperti ini, Suyadi tidak bisa bebas bergerak atau keluar rumah.
Sementara waktu tugasnya diemban Susiani. Apalagi, dia memang banyak terlibat dalam kegiatan warga. Termasuk dalam penanganan Covid-19 di wilayahnya. Salah satu yang paling diingat adalah ketika ada beberapa warga yang meninggal di RW 12 dalam sehari. ’’Sehari ada tiga kali yang meninggal. Saya sampai sungkan waktu telepon 112,’’ ucapnya.
Saat itu ada warga yang meninggal tiba-tiba ketika subuh. Sayangnya, warga tidak bisa mengurus jenazah secara langsung. Masyarakat harus menunggu petugas medis untuk melakukan visum luar dan menerbitkan surat kematian.
’’Tapi, saat itu sampai sore belum datang juga. Keluarga juga sudah mau memakamkan,’’ jelas ibu dua anak itu. Mereka pun nekat menyiapkan semua perlengkapan. Namun, mereka tiba-tiba dapat telepon dari puskesmas bahwa yang bersangkutan terindikasi Covid-19. Sebab, keluarganya sakit demam. Badannya panas dingin.
Hal itu tentu mengagetkan warga. Termasuk mudin yang menyiapkan perlengkapan jenazah. ’’Jadi langsung ditinggal semua. Keluarganya juga sempat bingung. Setelah itu, jenazah ditangani dengan protokol Covid-19,’’ paparnya.
Tidak berhenti di situ, masalah lain muncul saat anggota keluarga yang terindikasi Covid-19 hendak dirawat inap di rumah sakit. ’’Baru saja diantar, eh tiba-tiba orangnya pulang ke rumah naik taksi,’’ katanya.
Meski begitu, hal itu tidak dianggap berat bagi Susiana dan pengurus warga di Kampung Tangguh. Bagi mereka, aktivitas itu merupakan sebuah pengabdian.
Di kampung lain, warga juga kompak dalam penanganan Covid-19. Misalnya, yang dilakukan di RT 14, RW 12. Warga membuat sprayer di pintu gang. Namun, sprayer di Jalan Jojoran III A itu otomatis. ’’Saat ada pengendara yang melintas otomatis nyembur. Jadi lebih gampang memantau,’’ tutur Ketua RT 12 Sumarno.
Sama dengan di RT 1, pihaknya juga membantu kebutuhan permakanan bagi keluarga warga yang terkonfirmasi positif atau yang menjalani isolasi mandiri. Memang, Covid-19 harus ditangani secara kalem. Apalagi jika terjadi di perkampungan padat.
Misalnya, saat ada warga yang sedang isolasi. Sumarno harus menjelaskan kejadian itu dari pintu ke pintu agar tidak ada miskomunikasi. ’’Jadi memang perlu hati-hati. Satu gang saya datangi dan jelaskan duduk perkara warga yang sedang isolasi dan lingkungan di sekitarnya tidak perlu khawatir,’’ jelasnya.
Tugas lain saat tersiar kabar bahwa di peta digital ada warga yang positif di salah satu gang. ’’Ternyata, setelah kami cek, info di peta itu salah. Ini yang menjadi tugas kami sebagai pelurus informasi,’’ papar pria 61 tahun itu.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/2Xlw3iE