Tes Masif di Surabaya Harus Diimbangi Ruang Karantina

JawaPos.com – Pemkot Surabaya terus melakukan rapid test dan swab untuk mendeteksi persebaran Covid-19. Warga yang terkonfirmasi reaktif dari hasil rapid test segera dikarantina. Salah satunya di hotel yang bekerja sama dengan pemkot.

Sekitar 30 warga dikirim untuk menjalani karantina sementara di sebuah hotel di kawasan Gubeng Jumat hingga kemarin. Mereka dikarantina menyusul hasil rapid test yang dilakukan puskesmas di Kedungturi, Tegalsari. Warga yang dinyatakan reaktif dari hasil rapid test itu langsung di-swab dan dibawa ke hotel tempat karantina.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya Irvan Widyanto menuturkan bahwa memang ada sekitar 30 warga Tegalsari yang dibawa ke hotel tempat isolasi. Hasil rapid test mereka reaktif dan menunggu hasil swab. Dari jumlah tersebut, hasil tes 23 orang negatif. Sedangkan tujuh orang lainnya dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

”Yang negatif kami pulangkan. Sementara yang positif kami bawa ke Asrama Haji tadi (kemarin, Red) sekitar pukul 15.30,” ujar Irvan Sabtu (30/5).

Hasil tes swab itu memang baru keluar kemarin sore. Sebelumnya, hasil swab dijadwalkan keluar pada Jumat, tak lama setelah tes. Dengan demikian, mereka direncanakan tak terlalu lama di hotel. Kondisi itu berpengaruh pada persiapan isolasi sementara di hotel yang disediakan pemkot. ”Kami mohon maaf kalau persiapannya kurang,” tambah Irvan.

Salah seorang warga yang menjalani karantina di hotel adalah Annisa Intiana, warga RT 4, RW 8. Dia sedih ketika mengetahui hasil rapid test yang dijalani reaktif. Dia dikarantina bersama 14 tetangganya. Yang membuatnya semakin sedih adalah kondisi ekonomi keluarga yang semakin drop. Sebab, Wawan, suaminya juga sedang dirawat di salah satu rumah sakit rujukan di Kota Pahlawan.

Perempuan 25 tahun itu mengungkapkan, Jumat (29/5) puskesmas setempat menggelar rapid test di Kedungturi, Kecamatan Tegalsari. Yang dites warga yang tinggal di RT 4, RW 8. Hasilnya, 15 orang dinyatakan reaktif.

Muncul keluhan dari Annisa dan warga lainnya. Menurut Annisa, petugas menjanjikan hasil swab keluar pukul 21.00. Jika negatif, warga diperbolehkan pulang. ”Tapi, sampai sekarang belum ada kabar. Ada yang bilang nunggu tiga hari. Katanya malah tujuh hari. Ini yang mana yang bener tidak tahu,” ungkap dia kemarin siang (30/5). Kemarin sore akhirnya Annisa dipulangkan setelah hasil swab menunjukkan negatif.

Baru satu hari menjalani karantina, Annisa mengaku stres. Sebab, kondisi ekonomi keluarganya juga sedang drop. Sebab, bengkel milik suaminya sedang sepi sejak Covid-19 merebak di Surabaya.

Terkait kondisi sang suami, Annisa mengungkapkan, hasil rapid test Wawan sejatinya nonreaktif. Namun, kondisi tubuhnya yang sedang demam membuat Wawan harus dibawa ke rumah sakit untuk diobservasi. ”Suami udah dua kali di-swab. Tapi, sampai sekarang belum keluar juga (hasilnya, Red),” ucapnya.

Irvan menambahkan, warga yang sudah dipulangkan itu diminta untuk tetap menjalankan protokol kesehatan. Misalnya, mereka harus tetap memakai masker dan menjaga jarak aman dengan orang lainnya. ”Kami sudah berpesan agar selalu jaga kesehatan,” kata kepala Satpol PP Surabaya itu.

Di sisi lain, Sekretaris Fraksi Demokrat Nasdem Imam Syafi’i mengapresiasi langkah pemkot yang melakukan rapid test secara masif. Namun, itu perlu diimbangi dengan ketersediaan tempat isolasi atau karantina yang mencukupi.

Sebab, tempat yang tersedia saat ini terbatas. Asrama haji yang disiapkan untuk mengisolasi pasien tanpa gejala juga hanya berkapasitas 200 bed. Begitu pula RS Husada Utama yang digandeng sebagai rumah sakit darurat. Kapasitasnya sama, 200 bed untuk penderita dengan gejala. ”Kita lihat peningkatan jumlah penderita setiap harinya cukup signifikan. Memang itu berkat rapid test, tetapi mau ditampung di mana pasien-pasien itu?” ujarnya.

Sementara itu, anggota Fraksi PDIP Baktiono mengusulkan agar pemkot mengadakan sendiri mobil swab atau alat swab untuk menindaklanjuti hasil rapid test. Dengan begitu, penentuan pasien positif dan negatif bisa dilakukan dengan cepat. ”Jadi, pengklasifikasiannya lebih mudah. Mana yang harus masuk rumah sakit darurat, mana yang hanya butuh karantina biasa,” tuturnya.

Anggota dewan lima periode itu menuturkan, alat swab sangat penting dan dibutuhkan lantaran rapid test sudah berjalan masif. Tanpa alat tersebut, penanganan yang cepat tidak bisa dilakukan lantaran tidak memiliki alat yang memadai. ”Akhirnya kejar-kejaran jumlah yang meninggal dengan yang sembuh. Seharusnya yang sembuh lebih tinggi, itu lebih bagus,” jelas sekretaris DPC PDIP Surabaya itu.

TES CEPAT, MITIGASI TEPAT

Alur Pendeteksian Warga yang Terpapar Covid-19

  • Rapid test. Pemkot menyelenggarakan rapid test masif di berbagai tempat dalam beberapa hari terakhir.
  • Warga yang reaktif dalam hasil rapid test diharuskan mengikuti tes swab dan menjalani karantina. Salah satunya di hotel yang ditunjuk atau bekerja sama dengan pemkot.
  • Hasil tes swab keluar. Warga yang hasil tesnya negatif diizinkan pulang, sedangkan yang positif dirawat di RS rujukan.
  • Warga yang sudah dipulangkan diminta tetap menjalankan protokol kesehatan.

Saksikan video menarik berikut ini:

from JawaPos.com https://ift.tt/3dm6Om8

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai