JawaPos.com – Menteri BUMN Erick Thohir sedang menyusun roadmap industri pangan dengan menggabungkan sejumlah perusahaan pelat merah seperti, PTPN, Perum Bulog dan RNI dalam satu klaster.
Tujuannya agar BUMN dapat mengurangi ketergantungan impor dan kedepannya bisa mewujudkan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas tahun 2045.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR Mohammad Toha mendukung langkah tersebut, pembentukan klaster pangan BUMN. Caranya dengan penggabungan perusahaan yang memiliki bidang atau segmen bisnis yang sama diharapkan bisa dikelola dengan baik secara efektif dan efisien.
“Sebagai anggota Komisi VI DPR kita dukung langkah Meneg BUMN Erick Thohir ini. Harapnnya dengan penggabungan perusahaan ini kan nanti dikelola dengan baik, dalam artian efektif, efisien tujuannya itu tidak kesana kemari, tujuanya satu swasembada,” ujar Toha dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Selasa (2/6).
Toha menyampaikan, dari semenjak dahulu sampai sekarang Indonesia kesulitan untuk bisa swasembada pangan, salah satu penyebabnya ditengarai oleh tumpang tindihnya kepengurusan pangan. Untuk mengurai hal itu, pemerintah bisa membuat kluster pangan dinilai untuk mengefektifkan kinerja BUMN sendiri.
Menurut Toha, pihak swasta juga harus diberikan kesempatan. Karena dalam aturan UU BUMN itu bidang yang belum bisa diselenggarakan oleh swasta bisa ditangani oleh perusahaan BUMN. Namun ketika swasta sudah bisa menangani, pengelolaan itu baiknya diserahkan kepada swasta.
“Menurut saya itu, sambil mungkin menyegarkan untuk di holding arahnya itu satu, menyatunya swasembada,” katanya.
Toha mengatakan, meskipun pembentukan holding perusahaan BUMN pangan bertujuan untuk menyatukan tujuan yang satu arah yakni swasembada dan mengurangi impor. Namun, menurutnya Indonesia tidak bisa swasembada 100 persen, sebab masih tergantung dengan luar negeri yang kaitanya dengan produksi, efisiensi dan juga dari sisi politik.
“Dari sisi politik, kita tidak mungkin bisa memutuskan hubungan dagang dengan luar negeri. Secara efisiensi kita sering kalah dengan luar negeri, kemudian secara produksi kita juga misalnya beras, beras saja kan produksi Negara kita lebih kecil misalnya jika dibandingan dengan Thailand atau Vietnam yang bisa menghasilkan lebih besar,” ungkapnya.
Selain itu, jika dibandingkan dengan negara Malaysia atau Singapura, Toha menuturkan bulog di Negara tersebut bisa menjadi stabilisator harga, stabilisator ketersediaan pangan dan stabilisator ekonomi.
“Artinya dengan digabungnya perusahaan pangan BUMN, secara teori saya berharap pengelolaan akan lebih efektif dan fokus,” pungkasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/2ZVRk4q