JawaPos.com – Percaya atau tidak, ternyata ukuran jari tangan seseorang bisa menjadi petunjuk peluang hidup pasien Covid-19, khususnya pada pria. Mengapa bisa demikian? Penelitian membuktikan ukuran jari tangan bagian telunjuk dan jari manis bisa menjadi indikatornya.
Dilansir dari Science Times, Selasa (2/6), statistik menunjukkan bahwa ada tingkat kematian yang lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan yang terinfeksi virus Korona. Sebab, para ilmuwan berpendapat bahwa pria lebih jarang mencuci tangan secara teratur.
Selain itu, biasanya para pria tidak mencari bantuan medis dan memiliki sistem kekebalan yang secara genetik lebih lemah daripada perempuan. Atau mungkin juga memiliki kondisi kesehatan mendasar lainnya yang membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi.
Tapi selain indikator di atas, Peneliti John Manning dari Swansea University bersama Bernhard Fink dari Biosocial Science Information, Austria, merilis informasi baru tentang tingkat kematian pria dalam kaitannya dengan panjang jari manis. Dikatakan pria yang memiliki jari manis dan telunjuk lebih panjang memiliki peluang hidup yang lebih baik saat terinfeksi Covid-19.
Sebelumnya percobaan khusus menganalisis jari manis dan jari telunjuk telah dilakukan dari kasus SARS-CoV dan MERS-CoV. Dari analisis tersebut terungkap bahwa pria cenderung menghasilkan respons imun yang kurang kuat daripada perempuan dan lebih rentan terhadap berbagai agen infeksi. Hal ini berkaitan dengan testosteron (hormon pada pria) mungkin memiliki efek negatif pada sistem kekebalan tubuh seseorang.
Lantas apa hubungannya testosteron dengan jari?
Diluar dari penelitian tersebut, Ahli bernama Carl Pintzka dari Layanan Kompetensi Norwegia untuk Fungsional MRI mengungkapkan, jari manis dan jari telunjuk menunjukkan berapa banyak testosteron yang terpapar dalam rahim. Jari manis yang lebih panjang menunjukkan lebih banyak level testosteron dalam tubuh pria.
Sementara itu, Profesor Gülsah Gabriel dari Institut Leibniz untuk Eksperimental Virologi di Hamburg menambahkan, dari pasien Covid-19 laki-laki yang meninggal, mayoritas juga memiliki kadar testosteron rendah. Dia juga menjelaskan bahwa rendahnya kadar hormon ini merupakan faktor risiko ketika infeksi menyebabkan sitokin, yang menyebabkan virus pernapasan bisa mematikan.
“Teorinya adalah bahwa seseorang dengan testosteron prenatal tinggi dan jari manis panjang – memiliki tingkat ACE2 (protein) yang lebih besar,” kata Manning.
ACE2 konsentrasi besar sudah cukup untuk melawan virus. Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) adalah protein pengkode yang mengatur fungsi kardiovaskular dan ginjal, serta kesuburan. Ini juga merupakan reseptor virus Korona. Awalnya dipelajari selama breakout SARS-CoV, dan sedang dianalisis lagi dengan COVID-19. ACE2 juga diekspresikan dalam ginjal, paru-paru, dan saluran pencernaan.
Selain itu, Statistik Coronavirus di 41 negara menunjukkan, angka kematian pria tertinggi di Yunani terjadi antara 50-72 pasien. Dikatakan, hal ini terjadi karena keuntungan biologis bagi mereka yang berasal dari Australia, Selandia Baru, Austria, dan negara-negara Asia Timur, di mana jari manis pria di sana lebih panjang. Di sisi lain, Bulgaria, Spanyol, dan Inggris memiliki tingkat kematian pria yang lebih tinggi.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/3eyeFx8