JawaPos.com – Pandemi Covid-19 menyebabkan kondisi ketidakpastian terutama terhadap sektor ekonomi, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik pada 90 Kota di Indonesia, sejak Januari hingga Mei 2020 harga berbagai komoditas secara umum mengalami kenaikan.
“67 Kota mengalami inflasi, sedangkan 23 lainnya deflasi. Memang kenaikan harganya terpantau tipis sekali sekitar 0,07 persen. Kita menyadari, Covid-19 menyebabkan situasi tidak biasa semisal saat bulan Ramadhan tahun ini,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam telekonferensi pers, Selasa (2/6).
Dia menuturkan, bila dilihat dari pengelompokkan berdasarkan pengeluaran, penyebab utama inflasi di tengah pandemi disebabkan oleh kenaikan pada tarif angkutan udara, harga bawang merah, dan daging ayam. Tetapi sejauh ini, kondisi tersebut dapat ditangani, pasalnya pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan berbagai upaya menstabilkan ketahanan pangan.
“Pasokan pangan di bulan Mei 2020 relatif terjaga, meskipun ada perlambatan produksi karena PSBB yang membatasi aktivitas sosial. Kemudian pendapatan masyarakat juga menurun, sehingga menyebabkan melemahnya permintaan,” ujarnya.
Dari catatan BPS, ekspor pertanian di bulan April 2020 USD 0,28 miliar atau tumbuh 12,66 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Untuk periode Januari-April 2020, ekspor non migas Indonesia juga didominasi ekspor lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar USD 6,25 miliar atau 12,24 persen.
“Performa ekspor lebih bagus dari ekspektasi, komponennya yang diprediksi penggamat negatif karena corona, ternyata masih masif. Ini sebuah sinyal yang positif. Eksport pertanian masih tumbuh 15 persen,” jelasnya.
Diyakininya sektor pertanian masih memiliki peran yang cukup besar terhadap kinerja ekspor nasional, terbukti melemahnya perekonomian imbas Covid-19 tidak membuat sektor pertanian lesu.
Menanggapi hal itu, Pengamat Pertanian Prima Gandhi mengatakan, keberhasilan sektor pertanian juga tidak terlepas dari Kementan yang konsisten memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Hingga kini, indikator yang bisa dilihat adalah keberhasilan Kementan dalam pengadaan produksi pokok beras. Meski sempat ditemukan ada yang surplus dan defisit (beras) di beberapa provinsi, namun saya kira Kementan masih oke mempertahankan kesediaan pangan pokok masyarakat ini,” tandasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/2BtwuiE