JawaPos.com – Kahar Kalu sudah tak sabar untuk berlatih dan bermain sepak bola. Tapi, kampung halamannya di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang masuk zona merah membatasi keinginannya. Padahal, tepat di depan rumahnya ada lapangan sepak bola yang layak. Nah, Kahar tidak kehabisan ide. Dia bersama anak-anak kampung kembali menggalakkan olahraga yang pernah heboh di Bantaeng. Yaitu, sepak takraw.
Dengan sepak takraw, Kahar dkk tetap patuh pada peraturan social distancing yang digalakkan pemerintah. Tidak ada kontak fisik sama sekali selama permainan. Dipisahkan net, Kahar dkk tetap bisa asyik bermain. ’’Bolanya dari rotan juga, mainnya dengan kaki. Paling tidak kerinduan main bola sedikit terobati,’’ kata Kahar.
Selain itu, sepak takraw menjadi salah satu jurusnya untuk tetap mengembangkan kemampuan bermain sepak bola. Terutama skill mengontrol bola. Dengan bola yang lebih kecil, pria yang pernah berkostum PSM U-21 pada 2016 itu mengaku mendapat banyak keuntungan. ’’Juggling bola dan kecepatan ambil keputusannya. Saya kan striker, jadi harus bisa melakukan keputusan ketika ada kesempatan. Itu yang saya dapat dari sepak takraw,’’ bebernya.
Selain itu, aksi-aksi akrobatik di sepak takraw bisa diterapkan pada pertandingan sepak bola. Dia mengatakan, ketepatan dalam menaruh bola rotan ke daerah lawan sangat berguna jika nanti melakukan tendangan akrobatik ketika menerima bola mati atau umpan lambung dari sayap. ’’Beberapa gol saya di Liga 1 U-20, diakui atau tidak, banyak terinspirasi dari sepak takraw ini,’’ ujarnya, lantas tersenyum.
from JawaPos.com https://ift.tt/3dGCoeF