JawaPos.com–Laboratorium untuk melakukan tes swab bagi warga yang terpapar virus korona jenis baru di Kota Surabaya, mulai beroperasi. Pemerintah Kota Surabaya sudah mendapat bantuan dari Badan Intelijen Negara (BIN) berupa alat polymerase chain reaction (PCR) untuk keperluan membuat laboratorium sendiri.
”Saya memang ingin secepatnya laboratorium itu dioperasikan supaya kehidupan warga kembali normal,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini seperti dilansir dari Antara di Balai Kota Surabaya pada Kamis (4/6).
Menurut dia, untuk sementara, pemkot meminjam ruangan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya untuk menempatkan alat PCR itu dan membuat laboratorium. ”Pinjam ruangan dulu. Alhamdulillah laboratorium sudah bisa kita gunakan. Sambil menunggu Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) kita jadi,” kata Risma.
Bahkan, lanjut dia, sejak Rabu (3/6), Pemkot Surabaya sudah mulai mengoperasikan laboratorium tersebut untuk melakukan tes swab. Sudah ada ratusan sampel yang dikirimkan ke BBTKLPP untuk dilakukan tes swab.
Risma mengatakan, laboratorium tersebut diperlukan karena tidak selamanya menggunakan mobil PCR milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BIN yang sudah beroperasi di Surabaya hampir sepekan ini. Apalagi, mobil milik BNPB dan BIN tersebut tidak bisa selamanya berada di Surabaya untuk melakukan tes swab, melainkan harus keliling ke daerah lain di Jawa Timur atau di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser mengatakan, pihaknya sudah bertemu dan berkoordinasi dengan Kepala BBTKLPP Surabaya Rosidi Roslan. ”Saya sudah ketemu dengan Kepala BBPTLPP. Beliau mengatakan bahwa sehari bisa seribu sampel. Namun, karena ini masih baru, tidak bisa langsung segitu. Pelan-pelan lah ya sambil proses untuk mencapai itu,” kata M. Fikser.
Sebelum laboratorium PCR itu digunakan, Fikser memastikan terlebih dahulu melakukan uji validasi selama dua hari untuk memastikan hasil dari pemeriksaan itu benar-benar valid. ”Jadi, prosesnya memang harus melewati uji validasi supaya benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Fikser.
Dia menjelaskan, mekanisme dan hasil pemeriksaan di laboratorium PCR yang baru dioperasikan itu tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan mobil laboratorium PCR dari BIN. Sebab, untuk hasil esktraksi membutuhkan waktu selama 45 menit dan hasil pemeriksaan PCR-nya membutuhkan waktu 2–4 jam setiap sampel. ”Baru setelah itu hasil keluar. Apakah pasien itu negatif atau positif,” terang Fikser.
Saksikan video menarik berikut ini:
from JawaPos.com https://ift.tt/3eR9Te2